SWA Digital   Home Shopping Cart   Sign In Register  
  Senin, 25 September 2017   How to Order Shipping Payment Term & Condition Contact Us  

Articles
Photos
Documents
06 Sep 2011
Kapal Api Pionir Kopi Bubuk Bermerek
“Kami ingin kopi Kapal Api punya intimacy dengan konsumen, sehingga merek ini selalu ada di hati pelanggan, menjadi top of mind. Kami juga berharap Kapal Api menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan berkibar di mancanegara,” ujar Ihsan Mulia Putri, CEO PT Kapal Api Global Holding, saat ditemui di kantornya di gedung perkantoran The Plaza, Jakarta Pusat.
Home > Artikel

Shopping Cart: 0 Items:  


  Nicolaus Prawiro
  Zuhrian Arifsyah
  Nila Indriasari
  Lucky Man
  Passion Rini Soemarno di Bisnis Roti

Most Buy Articles
PERINGKAT 10 PERUSAHAAN TERPERCAYA 2009 (GCG) : Peringkat Perusahaan Terpercaya - SWA Edisi 27/2009
PERINGKAT PERUSAHAAN TERPERCAYA 2010 (GCG) INDONESIA MOST TRUSTED COMPANIES : Mereka yang Terpercaya - SWA Edisi 26/2010
Ayo, Berbisnis Seirama dengan Etika! - SWA Edisi 27/2011
Ketika GCG Menyentuh Pengelolaan Risiko - SWA Edisi 27/2012
Membudayakan GCG dengan Manajemen Pengetahuan - SWA Edisi 27/2013

 

 


Artikel Detail

07 Sep 2011
Dari Daerah, Mereka Bergerilya

Berbekal keintiman dengan budaya daerah masing-masing dipadukan dengan manajemen modern, merek-merek asli Indonesia di berbagai daerah terus berkibar. Beberapa di antaranya sukses go national, bahkan go international. Apa rahasianya?



Eddy Dwinanto Iskandar

Reportase: Gigin W. Utomo dan Julfini

Riset: Dian Solihati dan Rachmanto



How slow can you go? Mendengar ini, Anda tentu langsung teringat slogan sebuah merek rokok. Bedanya, dengan penambahan huruf S di depan kata “low”, maknanya jadi terpeleset 100%. Dan, yang mampu membuat pelesetan yang membuat pembacanya tersenyum simpul adalah produsen kaus oblong Dagadu asal Yogyakarta. Dengan tempelan kata-kata unik dan lucu yang umumnya mencerminkan budaya khas Yogya, Dagadu yang berkibar dengan bendera PT Dagadu Aseli Djogja mampu go national dengan berbagai sister brand seperti Omus dan Hirukpikuk. Kata “Dagadu” sendiri berasal dari bahasa prokem Yogya yang maknanya umpatan khas Jawa, “Matamu!”


Sebagai produk cenderamata di daerahnya, Dagadu belum tergoyahkan produk lain sejenisnya. “Kami bersyukur, gerai-gerai yang kami sediakan masih selalu ramai dikunjungi para wisatawan,” ungkap Ahmad Noor Arif, Direktur PT Dagadu Aseli Djogja kepada wartawan SWA Gigin W. Utomo di Yogyakarta. Memang, Dagadu mengandalkan kekuatan wisatawan untuk terus eksis. Karena itulah, ketika jumlah wisatawan yang berkunjung ke Yogya menurun akibat erupsi Merapi akhir tahun lalu, Dagadu ikut merasakan dampaknya. Untungya, penurunan itu tidak berlangsung lama. Saat ini penjualan Dagadu mulai merangkak naik. Sampai pertengahan tahun ini, penjualan mulai normal lagi, yakni di kisaran 25 ribu kaus per bulan.


Beragam srategi diterapkan agar merek Dagadu terus berkibar. Salah satunya, selalu mengeluarkan produk baru setiap bulan. Strategi lainnya, menyelenggarakan berbagai event yang melibatkan masyarakat secara luas. Misalnya, acara Dagadu The Raceplorer, event sepeda santai beregu. Acara ini bertujuan memperkenalkan gerai-gerai yang dimiliki Dagadu. Caranya, para peserta tidak hanya dinilai dari kecepatan mencapai finish, tetapi juga diajak bermain menyusuri sudut kota Yogya yang sudah ditentukan sambil memecahkan teka-teki yang diberikan. Dengan cara ini, mereka bisa memahami cerita di setiap sudut jalan Yogya yang selama ini menjadi tema-tema produk Dagadu.


Masih dari Jogja, selain Dagadu, terdapat pula sejumlah merek legendaris lainnya. Dari industri makanan dan minuman, dikenal merek-merek seperti Sirup TBH, Super Sekoteng, Charis Sekoteng, Sekoteng ABC, dan Kecap Achli Masak. Sebagai produk siap saji , keempat merek sekoteng tersebut sangat populer di tengah masyarakat. Produk yang dikemas secara khas ini bisa didapat dengan mudah di pasar ataupun gerai-gerai modern di Yogya.


Yogya tampaknya juga kota istimewa untuk bisnis sekoteng. Industri rumah tangga yang memproduksi sekoteng mencapai ratusan, meski yang benar-benar menguasai pasar bisa dihitung dengan jari. Hebatnya, sekoteng van Yogya tak hanya jago kandang. Mereka dikenal secara nasional, bahkan ada yang secara rutin mengirim produknya ke mancanegara. Salah satu produsen yang terkenal adalah PT Oscarindo Utama yang dirintis Thomas Budi Hartono (alm.) dan berlokasi di kawasan Gondomanan, dekat jantung Kota Yogya. Perusahaan yang khusus bergerak di industri makanan dan minuman ini eksis sejak 1940-an. Awalnya bernama CV TBH yang merupakan singkatan dari nama sang founding father. Setelah tumbuh pesat, sejak 1960 namanya diganti menjadi PT Oscarindo Utama.


Untuk ukuran Yogya, Oscarindo terbilang mapan. Perusahaan inilah pemilik beberapa merek yang hingga kini melegenda seperti Super Sekoteng, Sekoteng Charis, Sekoteng OSC, Kecap Achli Masak dan Sirup TBH. Belakangan, sekoteng menjadi primadona perusahaan karena penjualannya yang masih bagus.


Awalnya, dengan bendera CV TBH, perusahaan ini hanya memproduksi Sirup TBH. Tak lama kemudian, perusahaan ini merambah produk lain seperti sekoteng dan kecap. Kala itu, hampir semua produk TBH mengusasi pasar Yogya. Persaingan pun hanya sesama produk lokal, misalnya Kecap Achli Masak bersaing dengan Kecap Genthong. Walau penjualannya tak semoncer dulu, hingga saat ini Kecap Achli Masak dan Sirup TBH masih bisa ditemukan di pasar Yogya. Gempuran hebat perusahaan besar memang telah menurunkan omset kedua merek ini sejak 1980-an. “Saat ini, kami hanya mempertahankan pasar yang ada,” kata Ronald H. Oscar (30 tahun), generasi ketiga yang kini menjalankan roda Oscarindo.


Menurut Ronald, saat ini Kecap Achli Masak masih memiliki pelanggan loyal. Selain rumah tangga, juga kalangan pelaku usaha mi godog yang kebanyakan buka malam hari. “Produknya memang tak banyak seperti dulu lagi, tapi masih menguntungkan walau tidak besar,” ungkap alumni Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya Yogyakarta ini. Dibandingkan dengan kecap Achli Masak, tambahnya, Sirup TBH memiliki pasar yang jauh lebih baik. Sirup ini masih mampu bertahan menghadapi kompetitor besar seperti Marjan, ABC dan Indofood. Sirup TBH masih bisa ditemukan dengan mudah di toko-toko di sekitar Yogyakarta.


Kami bersyukur karena sirup kami masih bisa diterima pasar,” ungkap Ronald. Salah satu kuncinya, imbuh cucu Thomas Budi Hartono ini, Sirup TBH masih mempertahankan kualitas seperti resep yang ditinggalkan generasi terdahulu. Selain itu, sirup ini juga mengandalkan kemesraan masa lalu dengan konsumennya sehingga di-branding sebagai “Sirupnya Wong Jogja”. Sirup ini pun diklaim aman karena hanya menggunakan gula asli dan tanpa bahan pengawet. “Kami berani menjamin produk kami sangat aman karena kami tidak gunakan bahan-bahan yang tidak baik untuk makanan seperti sari manis,” Ronald menandaskan.


Walau terus digempur merek besar, nasib Kecap Achli Masak dan Sirup TBH masih beruntung dibanding merek-merek lain yang kini raib di pasar seperti produk minuman limun merek Sarsaparilla. Dulu, merek dari Yogya mampu merambah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beberapa merek limun lain yang cukup terkenal antara lain Manna, Hercules, Minerva, Decca, Ai Hwa dan Djangkar. Sebelum Coca-Cola masuk Ja-Teng, limun van Yogya tersebut menguasai pasar hingga ke desa-desa. Saat ini, hanya ada dua yang masih bertahan, Ai Hwa dan Minerva, itu pun mereka memproduksi berdasarkan pesanan saja.


Karena itu, perjuangan manajemen Oscarindo untuk tetap eksis perlu diapresiasi. Didukung sekitar 50 karyawan, perusahaan ini mampu memproduksi 8.000 lusin sirup per bulan dengan harga rata-rata Rp 13.500 per botol. Sementara untuk sekoteng diproduksi rata-rata 350 pak per hari yang dijual seharga Rp 750 per pak. Selain memenuhi pasar dalam negeri, produk Super Sekoteng juga dikirim ke Belanda dan Kanada, masing-masing 1.000 pak per dua bulan. “Permintaan luar negeri memang masih sedikit, tapi stabil,” kata Ronald. Diakuinya, persaingan produk sekoteng sudah sangat ketat. Hanya saja, sejauh ini belum ada perusahaan besar yang melirik sehingga ia merasa masih aman. “Dianggap pasarnya amat kecil. Kami berharap perusahaan besar jangan sampai masuk. Karena, kalau masuk, kami pasti kalah,” ujarnya.


Oscarindo tak perlu terlalu khawatir menghadapi perubahan zaman. Toh, di tengah gempuran merek raksasa, sejumlah merek makanan dan minuman asli Indonesia justru kian eksis dan menunjukkan keperkasaannya. Sirup Pohon Pinang asal Medan, contohnya. Bahkan, sejak diperkenalkan pada 1982, merek sirup dengan produk utama berupa jus markisa itu terus mencetak peningkatan omset 15%-20% per tahun. Daerah pemasarannya mencakup Sumatera, Jawa dan beberapa pulau di Indonesia bagian timur. Keunggulan Pohon Pinang yang juga merupakan diferensiasinya adalah sirupnya merupakan sirup jus sari buah. Dalam wawancara Julfini dari SWA dengan pihak Pohon Pinang di Medan, mereka mengklaim umumnya produk sirup lain tidak mengandung sari buah. Keunggulan lainnya, sari buah yang digunakan Pohon Pinang juga spesifik, yaitu markisa yang tumbuhnya hanya di beberapa tempat di Indonesia, salah satunya di Brastagi, dataran tinggi Tanah Karo, Sumatera.


Salah satu kunci sukses Pohon Pinang, hingga kini terus menjaga saluran distribusi dan meningkatkan pemasarannya. Armada penjualan Pohon Pinang rutin mengunjungi toko-toko sehingga ketersediaan barang dapat terpelihara. Pada waktu-waktu tertentu, perusahaan juga membuat trade promo untuk menggenjot penjualan. Ke depan, strategi Pohon Pinang untuk terus tumbuh adalah meningkatkan awareness dan fokus pada penjualan di Jawa. Diakui pihak Pohon Pinang, tantangan untuk terus berekspansi adalah dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia, teknologi dan ketersediaan bahan baku.


Selain Dagadu, Super Sekoteng, Sekoteng Charis, Sekoteng OSC, Kecap Achli Masak, Sirup TBH, dan Sirup Pohon Pinang, terdapat ratusan merek asli Indonesia yang masih eksis di daerah masing-masing. Tim riset SWA merangkum 50 di antaranya (lihat Tabel Indonesia Top Regional Brand).


Masih dari Medan, di ranah makanan dan minuman, menemani Pohon Pinang, terdapat rumah makan minang Garuda dan perusahaan kue dan roti Majestyk Bakery & Cake. Perusahaan kue dan roti asli Medan ini tetap eksis di tengah gempuran toko roti modern saat ini. Bahkan, kian berkembang di tangan generasi kedua, Anderson Nyam. Majestyk sudah lebih dari 30 tahun melayani pelanggannya. Kini, Majestyk memiliki ratusan jenis roti dan kue, serta punya 41 gerai yang tersebar di Sumatera dan Jawa. Bergeser ke arah timur, terdapat Pempek Pak Raden dari Palembang yang kini memiliki cabang di Jakarta.


Memasuki Pulau Jawa, tepatnya Jawa Barat, terdapat restoran khas Sunda, Ampera, yang bisa ditemui di setiap pusat keramaian kota. Bahkan, di seluruh Indonesia sudah berdiri 70 cabang rumah makan Ampera yang namanya merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Pemiliknya, Tatang Sudjani, merintis usaha ini pada 1963. Masih di Ja- Bar, dari Bandung mencuat nama rumah makan Bumbu Desa yang kini memiliki 27 gerai, ada juga Amanda Brownies, Kartika Sari, dan Sirup Tjap Buah Tjampolay asal Cirebon. Tjampolay kini mampu memproduksi hingga sekitar setengah juta botol sirup per tahun. Selain itu, dari kawasan ini masih terdapat pula raja kaki lima, yakni merek sirup, saus dan kecap Nasional produksi PD Sari Sedap Indonesia. Kecap Nasional yang menguasai 30% pasar nasional berlokasi di Bekasi dan ada sejak 1978. Salah satu kunci kekuatannya di segmen menengah-bawah, harganya lebih murah 20%-30% dibanding kompetitor.


Di wilayah Ja-Teng dan Yogya, terdapat produk confectionary legendaris permen Davos, Cokelat Monggo, Sirup Sarang Sari, Bandeng Juwana, Teh Gopek, jaringan restoran Pring Sewu, Roti Kecil, Bakpia Pathok 25, jenang Mubarok asal Kudus, Teh Gardoe sampai Serabi Notosuman. Beberapa merek di antaranya bahkan sudah eksis sejak sebelum negeri ini merdeka. Permen Davos asal Purbalingga, Ja-Teng, contohnya. Permen rasa mentol semriwing ini telah melegenda sejak 1931. Dirintis oleh Siem Kie Djian, kini perusahaannya, PT Slamet Langgeng, dipimpin oleh generasi ketiganya, Budi Handojo Hardi. Meski peredaran permen Davos ini hanya di seputaran Ja-Teng, Jogja dan sebagian Ja-Bar, hingga kini merek asli Indonesia yang satu ini tetap eksis.


Memasuki kawasan Ja-Tim, terdapat kopi instan merek Singa yang diproduksi oleh PT Putra Mandiri, perusahaan kopi asal Gresik. Perusahaan ini memiliki 12 sentra distribusi dan lima mitra distributor di Indonesia.


Selain industri makanan dan minuman, segmen ritel juga memiliki beberapa merek asli nasional yang menjadi jawara di daerahnya. Sebut saja, Supermarket Macan Yaohan yang memiliki 13 cabang di Medan; Suzuya yang memiliki tujuh department store, lima supermarket, 12 superstore, tiga toko furnitur, tiga hotel, dua water park, serta dua resto Koki Sunda yang tersebar di Banda Aceh sampai Padang dan Pekanbaru; Fajar Toserba di Ja-Bar; Moro Grosir di Purwokerto; AJBS Swalayan milik PT Anak Jaya Bapak Sejahtera di Ja-Tim; dan toserba Hardy’s di Bali.


Di luar merek-merek tersebut, masih terdapat puluhan merek digdaya di Indonesia dari berbagai industri sebagaimana bisa Anda simak dalam liputan SWA kali ini.

 

 

 

 

Indonesia Regional Brands
 
 
JAWA TENGAH & DIY
Dagadu
Merek Dagadu begitu melekat bagi masyarakat Yogyakarta. Melalui PT Aseli Dagadu, usaha ini terus berkembang, selain kaus oblong, juga memproduksi mug, pin, dompet, topi, gantungan kunci, stiker dll. Setelah sukses selama 17 tahun, kini Dagadu memiliki tiga gerai di Yogya dengan 7 merek: Dagadu Djokdja, HirukPikuk, Omus, Afterhour, Daya Gagas Dunia, Malioboroman dan Malman.
Serabi Notosuman
Jajanan khas dari Solo ini dirintis sejak 1923. Letaknya di sepanjang jalan di Notosuman, Solo. Sekarang sudah merambah ke beberapa kota: Semarang, Klaten, Magelang, Bandung, Salatiga dan Malang.
Teh Gardoe
Teh Gardoe sangat terkenal di Solo. Teh yang diproduksi PT Gunung Subur ini terkenal dengan rasa dan keharumannya. Teh tubruk ini menguasai pangsa pasar di Solo dan Sragen. Sudah dipasarkan ke beberapa kota di Ja-Teng dan Yogyakarta.
Mubarok
Melalui PT Mubarokfood Cipta Delifia, merek jenang asal Kudus ini mampu menguasai pangsa pasar jenang di Indonesia dengan area pemasaran hampir semua kota di Pulau Jawa, Bali, Batam, Sumatera dan Sulawesi.
Bakpia Pathok 25
Jajanan asli Yogyakarta ini sudah terkenal sejak 1992. Generasi penerus pembuat Bakpia Pathok 25 saat ini adalah Arlen Sanjaya. Perusahaan mempunyai lima toko cabang yang tersebar di Yogya. Bakpia Pathok 25 menjadi favorit penikmat kuliner Kota Gudeg karena memiliki banyak ragam rasa yang nikmat dan lezat di antaranya bakpia kacang ijo, nanas, cokelat, keju, durian, kumbu dan aneka rasa.
Roti Kecil
Perusahaan roti merek Roti Kecil di Kota Bengawan ini didirikan tahun 1982. Perusahaan yang berawal dari industri rumahan kini berkembang pesat dengan manajemen modern. Melalui PT Cipta Usaha Abadi Nusantara, perusahaan mempunyai tiga toko di Solo, selain cabang di Yogya dan Semarang.
Obat Antinyamuk Cap Kingkong
Cap Kingkong adalah salah satu merek lokal yang cukup kuat untuk pemain obat antinyamuk. Merek milik PT Ampuh Perkasa Jaya asal Tegal ini memang punya pasar tersendiri, terutama di wilayah Pantura.
Sriboga
Jagoan terigu dari Ja-Teng ini berdiri tahun 1990. Merek milik PT Sriboga Raturaya ini memiliki pangsa pasar 7% dan termasuk pemain papan atas. Dengan kualitas produksi yang bagus dan layanan yang baik, Sriboga menempati posisi ketiga produsen terigu terbesar di Tanah Air.
Aneka Ilmu
Toko buku dan percetakan milik Grup Aneka Ilmu ini merupakan percetakan terbesar di Semarang. Kini ada 40 perwakilan perusahaan dan empat distributor utama yang tersebar di kota-kota besar di Tanah Air. Usaha ini dirintis sejak tahun 1975 oleh H. Suwanto.
Dedy Jaya
Merek bus milik PO Dedy Jaya Lambang Perkasa ini sukses merajai bisnis transportasi di Ja-Teng dan sekitarnya. Usaha ini dirintis sejak 1989 oleh Muhadi Setiabudi. Kini, jumlah armada busnya mencapai ratusan unit dan melayani trayek Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, dan Jakarta-Pemalang-Pekalongan.
New Armada
Usaha karoseri asal Magelang ini merupakan salah satu bisnis karoseri yang terbesar di Indonesia. David Herman Jaya, sang pendiri bisnis ini, merasakan puncak kejayaannya sejak 1980-an. Saat ini, pabrik New Armada di Magelang memiliki kapasitas produksi 500 unit per bulan.
Pring Sewu
Restoran ini sudah terkenal sebagai tempat persinggahan bagi mereka yang sedang menempuh perjalanan antarkota, khususnya di Ja-Barat dan Ja-Teng. Pringsewu sekarang memiliki 17 jaringan resto, di antaranya di Solo, Tegal, Sleman, Pemalang, Cilacap, Yogya, Cirebon dan Banyumas. Saat ini mengincar lokasi di Surabaya, Malang dan Tuban.
Sri Ratu
Pionir bisnis supermarket di Semarang dan Ja-Teng ini membidik segmen menengah-atas. Tujuh gerainya tersebar di seluruh Ja-Teng. Kini Sri Ratu dikembangkan ke arah special store, misalnya Sri Ratu Semarang menghadirkan pusat elektronik bertajuk Atlanta Electronics Center.
Teh Gopek
Melalui bendera PT Gopek Cipta Utama, teh ini mulai diproduksi tahun 1942 di Slawi. Awalnya sebagai industri rumahan dengan peralatan sederhana. Teh Gopek merupakan salah satu teh legendaris yang mempunyai citarasa khas dan menguasai sekitar 25% pasar teh. Teh Gopek memiliki kantor perwakilan di Surabaya, Semarang, Purwokerto, Slawi dan Jakarta.
Progo Swalayan
Raja swalayan di Yogyakarta ini didirikan tahun 1968. Toserba ini menyediakan kebutuhan sehari-hari, perlengkapan rumah tangga, produk pecah belah, peralatan elektronik hingga barang-barang kerajinan.
Dewi Sri
Ratu bus antarkota antarprovinsi ini berdiri sejak 1995 di Tegal. Usaha yang dirintis oleh Rokayah dan suaminya Ikmal Jaya ini sekarang memiliki sekitar 400 unit bus yang melayani trayek Tegal-Jakarta, Pekalongan-Jakarta, dan Purwokerto-Jakarta.
Bandeng Juwana
Bandeng Juwana adalah sebuah pusat oleh-oleh yang terkenal di Semarang, menyediakan bandeng duri lunak, enting-enting gepuk, moaci, dan masih banyak lagi. Ide membuat bandeng duri lunak didapat tahun 1980 oleh pemiliknya, Daniel Nugroho Setiabudi. Karena keuletannya, akhirnya Bandeng Juwana menjadi besar dan menjadi salah satu pusat oleh-oleh yang terkenal di Semarang, bahkan sampai ke luar kota.
Sirup Sarang Sari
Sarang Sari, begitulah nama sirup berbotol serupa bir itu, bertahan di tengah gempuran minuman berkarbonat. Cikal bakal sirup ini dimulai dari De Wed Bijlsma, pengusaha asal Groningen, Belanda, yang mendirikan NV Conservenbedrijf de Friesche Boerin pada 1934. Pada 1959, perusahaan diambil alih keluarga Gunawan. Merek De Friesche Boerin diubah menjadi Sarang Sari. Pada 1981, Sarang Sari dijual ke Rahmat Semedi. Sarang Sari pun memindahkan pabriknya ke Cimanggis, Depok, dan memproduksi hingga satu juta botol per tahun.
Moro Grosir
Moro merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Purwokerto. Moro grosir dan ritel berada di bawah bendera PT Bamas Satria Perkasa yang berdiri tahun 1997.
Sirup TBH
Sirup yang telah diproduksi sejak 1949. Sirup TBH masih ditemukan dengan mudah di toko-toko di sekitar Yogyakarta. Produk ini dibranding sebagai “Sirupnya Wong Jogja”.
Monggo
Sebagai produk oleh-oleh, desain cokelat Monggo menjadi daya tarik tersendiri. Kemasannya menggunakan gambar stupa candi, becak dan wayang. Konsep kemasan mengusung tema eco friendly yang menggunakan kemasan kertas mudah didaur ulang. Edward Riando Picasauw, Direktur CV Anugerah Mulia, produsen cokelat Monggo, mengawali usaha ini tahun 2005.
Tegel Kunci
Tegel klasik dari Yogyakarta ini menyediakan lebih dari 150 motif dengan harga mulai dari Rp 50 ribuan per m2 (motif polos) dan Rp 180 ribu per m2 (tegel bermotif). Pabriknya berlokasi di kawasan Pathuk, Yogya. Tegel kunci memiliki pelanggan hotel bintang lima seperti Hotel Four Season, Mercure, Museum BI, Galeria Mall, dll.


"Hak Cipta artikel ini milik SWA dan dilindungi dengan Undang-undang. Dilarang menyadur, mengkopi, mengutip atau menggunakan tanpa izin tertulis, sebagian atau seluruh isi untuk tujuan apapun. Untuk memesannya silahkan klik tombol 'Add'."