SWA Digital   Home Shopping Cart   Sign In Register  
  Senin, 25 September 2017   How to Order Shipping Payment Term & Condition Contact Us  

Articles
Photos
Documents
06 Sep 2011
Formula Merek Asli Indonesia Berjaya
Di tengah gempuran merek asing, beberapa merek asli Indonesia terlihat semakin berjaya di pasar lokal dan internasional . Apa rahasianya?.
Home > Artikel

Shopping Cart: 0 Items:  


  INDONESIA DIGITALPRENEUR 100 : Visitek: Sistem Integrator Lokal Pesaing Pemain Global
  INDONESIA DIGITALPRENEUR 100 : Agate Studio:Pendapatan Tumbuh 840%
  INDONESIA DIGITALPRENEUR 100 : Tokobagus.com: Pelopor Toko Online
  INDONESIA DIGITALPRENEUR 100 : Ayofoto.com: Jualan Foto Online Beromset Miliaran Rupiah
  INDONESIA DIGITALPRENEUR 100 : Pitra Satvika dan Fedi Fianto: Strategi Ganda Membangun Stratego

Most Buy Articles
PERINGKAT 10 PERUSAHAAN TERPERCAYA 2009 (GCG) : Peringkat Perusahaan Terpercaya - SWA Edisi 27/2009
PERINGKAT PERUSAHAAN TERPERCAYA 2010 (GCG) INDONESIA MOST TRUSTED COMPANIES : Mereka yang Terpercaya - SWA Edisi 26/2010
Ayo, Berbisnis Seirama dengan Etika! - SWA Edisi 27/2011
Ketika GCG Menyentuh Pengelolaan Risiko - SWA Edisi 27/2012
Membudayakan GCG dengan Manajemen Pengetahuan - SWA Edisi 27/2013

 

 


Artikel Detail

06 Sep 2011
Masako Rajin Mengedukasi Target Pasar

Yuyun Manopol & Herning Banirestu



Tak terasa sudah 22 tahun produk Masako beredar di Tanah Air sejak diluncurkan pada 1989. Dalam rentang waktu yang tak singkat itu, produk yang dirilis PT Ajinomoto Indonesia (AI) ini berhasil membuktikan diri sebagai jawara produk penyedap. Hasil riset SWA dalam ajang Indonesia Original Brand 2011 untuk kategori penyedap rasa/masakan, Masako berada di posisi pertama dengan perolehan skor ALSI (Advocacy, Loyalty, & Saticfaction Index) 72,75%, mengungguli Sasa dan Royco.


Menurut Taro Komura, Wakil Presdir AI, Masako merupakan produk satu-satunya dalam payung AI yang lahir dan dipasarkan di Indonesia. Pria yang baru dua tahun tinggal di Indonesia ini mengaku awalnya tidak mudah menjual Masako. Sebab, kala itu (1989), orang lebih familier dengan produk sejenis Aji-No-Moto, monosodium glutamat (MSG) atau yang secara generik disebut vetsin. Saat itu AI menyadari bahwa tantangan mereka tidak hanya memperkenalkan merek Masako, tetapi juga harus melakukan edukasi langsung ke konsumen tentang isi dan kegunaan bumbu Masako. Taro menjelaskan, Masako merupakan nama perempuan dalam bahasa Jepang yang dianalogikan sebagai seorang wanita yang identik dengan senang memasak.


Saat itu diputuskan, staf pemasaran AI akan terjun langsung ke lapangan untuk memperkenalkan Masako. Caranya, pasukan tenaga penjualan mendekati para ibu rumah tangga. “Dulu hampir semua salesman kami membawa termos, untuk melakukan tes rasa (product sampling) dengan cara membuat sup instan agar konsumen bisa merasakan langsung,” ujar Taro. Tujuannya, untuk memberikan pengetahuan kepada konsumen bahwa untuk membuat sup tidak perlu menggunakan daging ayam asli, hanya cukup menggunakan Masako karena Masako dibuat dari daging asli dan harganya pun sangat ekonomis. Karena target pasarnya adalah para ibu rumah tangga, AI pun mengumpulkan pendapat dari mereka dan menggunakan opinion leader dari teman-teman mereka sendiri untuk menggaet kepercayaan mereka.


Strategi promosi menggunakan tenaga penjualan dilakukan hingga dua tahun. Pada lima tahun pertama sejak dikeluarkan pada 1989, diakui Taro, masyarakat Indonesia belum terlalu paham dan tahu Masako. Namun setelah itu, ia mengklaim hasil penjualan produk ini berlipat-lipat. Hingga saat ini, menurutnya, kekuatan AI terletak pada keberadaan pasukan tenaga penjualan tersebut. Saat ini AI ini memiliki 1.700 karyawan yang tersebar mulai dari Banda Aceh hingga ke ujung timur Indonesia. Taro mengakui perlu kesabaran untuk membangun merek Masako, sebab saat itu Masako merupakan produk bumbu jenis baru.


Ia meyakini, kekuatan sales force sangat penting untuk penetrasi pasar, tetapi harga juga sangat penting dalam menentukan keberhasilan. “Sasaran Masako bukan hanya kelas A atau B. Filosofi kami, Masako harus bisa dijangkau semua orang, jadi harganya harus diterima semua pasar,” ujar pria yang sudah 22 tahun bekerja di Ajinomoto ini. Tak tanggung-tanggung, AI mematok harga Masako lebih murah dari Rp 300 per sachet (ukuran 7,5 gr). Bahkan, pada 1989 harganya pernah cuma Rp 100 per sachet.


Setelah Masako dikenal dan ada di mana-mana, barulah AI mengiklankan Masako di televisi sekitar awal 1990-an dengan bintang iklan Paramitha Rusadi dan Didi Petet. “Di sini kekuatan media televisi masih nomor satu, maka itu kami utamakan,” ujar Taro. Iklan tersebut juga memperkenalkan Masako yang bisa digunakan bukan hanya untuk membuat sup, tetapi juga tumis, sambal, gorengan, dan sebagainya. Jadi, penggunaan Masako yang lebih luas diperkenalkan melalui iklan dan demo masak. Untuk membantu konsumen memasak, pada kemasan bagian belakang Masako dicetak resep-resep sederhana yang bisa diaplikasikan dengan bumbu Masako.


Meski demikian, keberhasilan tersebut tak membuat AI terlena. Menurut Taro, untuk menjaga engagement dengan konsumen, tiap beberapa tahun sekali AI selalu memperbaiki rasanya. Riset dan pengembangan (R&D) pun dilakukan dengan sangat detail setiap tahun. Sebab, pihak AI menyadari level kepuasan konsumen dari waktu ke waktu meningkat, begitu juga dalam hal bumbu masak. “Isinya memang rahasia dan ini tidak disadari konsumen, namun mereka akan merasakan kualitas produk terbaik kami,” katanya mengklaim. Selain itu, AI juga rutin mengecek dan memperbaiki kualitas bahan bakunya. Mayoritas yang duduk di R&D adalah orang Indonesia karena mereka lebih paham lidah atau selera orang Indonesia. Hal ini bisa dipahami karena Masako hanya dijual dan didedikasikan untuk pasar Indonesia.


Yang menarik, AI mengembangkan strategi komunikasi Masako yang sesuai dengan kemajuan zaman. Hal ini tampak dari kehadiran Masako yang tak hanya eksis lewat iklan di media konvensional, tetapi juga sudah menggunakan media-media baru seperti Twitter dan Facebook.


Belakangan, perusahaan yang hadir di Indonesia 42 tahun silam (sejak 1969) ini merilis Dapur Umami yang sesungguhnya bukan hanya media komunikasi untuk Masako, tetapi juga semua produk Ajinomoto seperti Ajinomoto, Saori dan Sajiku. Dapur Umami dikemas dalam sebuah program teve berdurasi 90 detik yang memperkenalkan resep-resep praktis setiap hari. Nah, di media sosial, AI juga mempromosikan Dapur Umami. “Sekarang kan banyak ibu muda yang paham dengan Internet,” kata Taro beralasan.


Kehadiran Dapur Umami ternyata berhasil lebih mendekatkan AI dengan target pasarnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya ibu rumah tangga yang berminat datang ke kantor pusat AI untuk melihat demo di cooking studio Dapur Umami. Kegiatan below the line ini telah berjalan dalam dua tahun terakhir ini.


Sayang, Taro tidak berkenan mengungkapkan detail angka pertumbuhan pasar Masako. Ia hanya menyebutkan, pertumbuhan Masako saat ini mencapai dua digit. ”Yang jelas, Masako kini nomor satu, dan sudah digunakan hampir seluruh ibu rumah tangga Indonesia,” ujarnya mengklaim. (*)


Riset: Adinda KHalil Ar-Rahman

 

 

Belanja Iklan Produk Masako Tahun 2008-2011



(Dalam Jutaan Rupiah)



Produk 2008 2009 2010 (Jan-Mei) 2011
Masako 23.719 26.736 39.044 30.773
Sumber: Nielsen        

 


"Hak Cipta artikel ini milik SWA dan dilindungi dengan Undang-undang. Dilarang menyadur, mengkopi, mengutip atau menggunakan tanpa izin tertulis, sebagian atau seluruh isi untuk tujuan apapun. Untuk memesannya silahkan klik tombol 'Add'."