SWA Digital   Home Shopping Cart   Sign In Register  
  Rabu, 22 November 2017   How to Order Shipping Payment Term & Condition Contact Us  

Articles
Photos
Documents
06 Sep 2011
Formula Merek Asli Indonesia Berjaya
Di tengah gempuran merek asing, beberapa merek asli Indonesia terlihat semakin berjaya di pasar lokal dan internasional . Apa rahasianya?.
Home > Artikel

Shopping Cart: 0 Items:  


  Siswanto Sudomo: KEAKRABAN TEKNOLOGI DAN PASAR
  Ridwan Gunawan: SYNERGI DAN DIVERSIFIKASI USAHA
  ENDUN MEMBORDIR BATIK
  PENGGERAK LUSI DAN PAKAN DARI PEKALONGAN : A. KADIR
  MENGIKAT LANGGANAN SETIA

Most Buy Articles
PERINGKAT 10 PERUSAHAAN TERPERCAYA 2009 (GCG) : Peringkat Perusahaan Terpercaya - SWA Edisi 27/2009
PERINGKAT PERUSAHAAN TERPERCAYA 2010 (GCG) INDONESIA MOST TRUSTED COMPANIES : Mereka yang Terpercaya - SWA Edisi 26/2010
Ayo, Berbisnis Seirama dengan Etika! - SWA Edisi 27/2011
Ketika GCG Menyentuh Pengelolaan Risiko - SWA Edisi 27/2012
Membudayakan GCG dengan Manajemen Pengetahuan - SWA Edisi 27/2013

 

 


Artikel Detail

06 Sep 2011
Makin Moncer di Generasi Ketiga

Eva Martha Rahayu & Rias Andriati


Kalau saja pada 1980-an Kolonel Sudomo tidak membeli jas buatan Peter Wongso, belum tentu cabang Wong Hang Tailor (WHT) milik keluarga Wongso bisa keluar dari

markasnya di Surabaya. Pasalnya, Menko Polkam zaman Orde Baru itu adalah orang pertama yang mempromosikan produk WHT di kalangan para pejabat di masa itu. “Kami berterima kasih kepada Pak Sudomo yang telah menyarankan untuk berani masuk ke Jakarta,” ujar Peter. Kini, WHT tidak saja eksis di Ibu Kota, tetapi juga beberapa kota besar lain dengan 12 cabang.


Untuk menaklukkan pasar Jakarta tahun 1986, mula-mula pihaknya harus door to door. Aksi jemput bola secara bergerilya itu persis dengan apa yang dilakukan kakeknya saat awal merintis berdirinya usaha menjahit di tahun 1933 di Kota Buaya. Waktu itu sang kakek yang bernama Wong Hang menggunakan namanya sendiri sebagai merek usaha dengan nama Wong Hang Kleermaker. Hebatnya, Presiden Soekarno dulu pun pernah menjadi pelanggan jas Wong Hang.


Kini, pelanggan tukang jahit yang sudah beroperasi selama 78 tahun itu tidak cuma dari kalangan pejabat dan tokoh penting, tetapi juga selebritas, artis, politikus dan kalangan berkantong tebal lainnya. Bahkan, pelanggan di luar negeri. Mereka menyukai jas buatan keluarga Wongso yang dibanderol sekitar Rp 12 juta per potong. “Harga Rp 12 juta itu menurut saya tidak mahal, karena kualitas bagus,” ungkap Peter yang juga menggunakan bahan baku ekor kuda dan bulu unta untuk pembuatan jas.


Kendati sukses dalam pembuatan jas pria, WHT tidak tergiur melirik pasar jas wanita. Alasannnya, pembuatan blazer wanita lebih rumit. “Kami membagi karakter pelanggan menjadi dua,” Peter menuturkan. Pertama, mereka yang banyak protes, tetapi setia menjadi pelanggan. Tipe kedua, konsumen yang tidak banyak bicara, tetapi tidak balik lagi setelah order jas pertama. Meski demikian, pria berumur 50 tahun itu mengaku, mayoritas pelanggannya tipe yang setia, malah turun-temurun.


Diceritakan Peter, dia adalah generasi ketiga WHT. Ayahnya, Wongso Soebroto, menerima tongkat estafet pada 1960-an. Di tangan generasi kedua itulah WHT banyak melakukan perubahan pesat. Misalnya, mulai mengamati dunia jas atau fashion di mancanegara, serta mengikuti kongres, seminar atau pertunjukan.


Saat ini Peter dipercaya sebagai nakhoda WHT. Lantaran fondasi bisnis sudah kuat dipancangkan oleh ayah dan kakeknya, dia tidak perlu terlalu repot mengelolanya. Dan dia berhasil mematahkan mitos bisnis bahwa generasi pertama merintis, generasi kedua membesarkan, generasi ketiga menghancurkan. Faktanya, sebagai generasi ketiga, Peter justru banyak membawa angin kemajuan bagi WHT.


Sejak dipimpin Peter, sistem produksi mulai dimodernisasi. Tepatnya, pada 1980 menerapkan sistem komputerisasi untuk memperoleh bentuk proporsional desain mode, struktur dan komposisi bahan yang digunakan. Dukungan teknologi lainnya berupa mesin pres, pembuat lubang kancing, bobok saku dan stik pada kerah jas agar hasil jadi pakaian resmi itu enak dipakai dan pas di badan pelanggan. Apalagi, dengan teknologi itu, bisa dibuat pola jas lurus sesuai dengan serat kain sehingga hemat pemakaian kain.


“Meski hi-tech sudah menjadi bagian penting produksi WHT, sentuhan tangan tetap menjadi bagian kuat,” ujar Peter membeberkan secuil rahasia suksesnya. Sebab, selama ini tailor identik dengan handmade. Itulah sebabnya, beberapa bagian jas itu harus dijahit secara manual. Menurutnya, dibutuhkan sentuhan seni untuk menghasilkan jas yang mampu menonjolkan kelebihan tubuh seseorang. Dengan demikian, pada akhirnya akan dihasilkan jas yang berkualitas.


Bagi Peter, peran penjahit tak ubahnya arsitek. Mengapa? “Karena, konsumen berharap bisa dibuatkan jas atau rumah sesuai dengan yang diidamkan,” katanya menegaskan. Dan tailor atau arsitek berusaha mewujudkan mimpi tersebut. Strateginya, penjahit akan menutupi kekurangan bentuk tubuh pelanggan.


Selama ini, WHT tidak mengecewakan. Pelanggan terus berdatangan, bahkan rata-rata mereka tercatat sebagai pelanggan lebih dari 10 tahun. Rudy Kartajaya, misalnya, setia lantaran hasilnya memuaskan. “Perut saya kan gendut. Tapi, begitu memakai jas WHT, kok banyak yang komentar saya terlihat lebih langsing,” ujar pelanggan sejak lima tahun lalu itu dengan senang. Biasanya, dalam setahun Rudy membeli jas WHT sebanyak 4-5 potong dengan harga Rp 8-12 juta per potong.


Demi menjaga kualitas produk, WHT tidak sembrono buka cabang. Bukan hanya dalam urusan pakaian, langkah ekspansinya pun demikian sehingga cenderung lamban: sekarang cuma ada 12 gerai. Lokasi gerainya tersebar di tiga tempat. Untuk melayani pelanggan di wilayah Bandung, Jakarta dan Sumatera, tempat produksinya di Jakarta. Adapun untuk wilayah timur, seperti Bali dan Surabaya, lokasi produksi di Kota Buaya. Untuk pemasaran di Singapura, tempat produksinya dilakukan di Batam.


Agar pelanggan makin setia dan percaya, WHT menempatkan kualitas sebagai prioritas utama. Begitu pentingnya mutu sehingga, seperti kata Peter, pihaknya tidak terlalu pusing memikirkan kuantitas. Dalam sebulan rata-rata dia mendapat order 100-an potong jas. Berapa omsetnya? Peter tutup mulut saat ditanya soal itu. Namun, jika mengacu kisaran order 100-an jas per bulan dengan harga dipukul rata Rp 12 juta/potong, hitungan kasar omset bulanan sekitar Rp 1,2 miliar atau Rp 14,4 miliar per tahun. Hmm...., lumayan kan? (*)




 

"Hak Cipta artikel ini milik SWA dan dilindungi dengan Undang-undang. Dilarang menyadur, mengkopi, mengutip atau menggunakan tanpa izin tertulis, sebagian atau seluruh isi untuk tujuan apapun. Untuk memesannya silahkan klik tombol 'Add'."